Akibat Tidak Mendengar Larangan Ibunya, Anak ini Meninggal Kecelakaan

Posted on 2016-03-15 20:19



PADA suatu subuh saya hendak berangkat kerja. Kalau bukan karena perintah atasan, sebenarnya saya sangat malas untuk datang ke kantor di hari libur. Dengan mata masih mengantuk, saya mengendarai motor dengan agak pelan sambil menahan dinginnya angin subuh.

Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan “Braaak!” Saya dikagetkan dengan suara benturan yang sangat keras yang membuat saya terkejut, ternyata tepat di depan saya terjadi kecelakaan. Terlihat ada tiga orang sudah terkapar, saya hentikan motor lalu saya pinggirkan di tepi jalan, dengan tergesea-gesa saya dekati tiga orang itu, sebenarnya saya tidak sanggup melihat kondisi ketiga orang tersebut, tapi karena jiwa kemanusiaan saya, akhirnya saya memberanikan diri.

Terlebih saat saya melihat keadaan seorang gadis berumur sekitar 15 tahun, kepalanya berlumuran darah terbentur aspal sangat keras, begitu juga dengan seorang bapak diperkirakan berumur 35 tahun mengalami hal yang sama. Namun, ada seseorang anak lelaki yang saya perkirakan anak laki-laki tersebut yang telah memboncegi gadis tersebut. Anak laki-laki tersebut masih tersadar duduk sambil merintih menahan kesakitan. Saat itu keadaan sepi, mungkin karena keadaan yang masih sangat pagi diperkirakan semua kantor juga libur.

Tak tahan melihatnya cepat-cepat saya angkat gadis itu yang sudah terluka parah, entah karena apa saya langsung menolong gadis itu. Mungkin karena gadis itu mirip dengan adik saya, jadi saya merasakan bagaimana kalau itu benar terjadi dengan adik saya. Dengan sekuat tenaga saya mengangkat gadis kecil itu, saya berteriak pada orang sekitar agar turut membantu, terutama untuk menolong seorang bapak yang sudah sekarat.

Dengan tertatih dan penuh darah di baju. Saya coba menghentikan mobil yang sedang melaju. Namun 1, 2, dan 3 mobil menolak, tak sanggup melihat seorang anak gadis yang sedang sekarat dipangkuan saya. Saya mencoba memberanikan diri saya ke tengah jalan raya dan memberhentikan sebuah mobil pick up. Tak banyak bicara langsung saya naik ke mobil. Hendak ingin menikkan gadis ke mobil tiba-tiba terjadi sedikit cekcok
“Ini ada apa?” tanya supir dengan sedikit menggentak.
“Tolong antarkan anak ini ke rumah sakit terdekat pak!” jawab saya tergesa.
“Tidak bisa, saya sedang sibuk,” jawab supir.
“Bapak tidak melihat gadis ini penuh dengan darah dan sekarat. Bapak masih punya hati kan?” ungkap saya dengan sedikit nada kesal.

Supir itu pun terdiam setelah melihat kondisi gadis tersebut. Setelah mendapat sinyal persetujuan saya langsung menaikkan gadis itu ke mobil, lalu orang-orang yang telah datang untuk membantu pun ikut mengangkat pemuda dan bapak yang terluka parah tersebut naik ke mobil pick up itu. Setelah semua korban kecelakaan itu naik ke mobil, mobil itu pun jalan menuju rumah sakit terdekat. Tetapi saya tidak ikut ke rumah sakit dikarenakan saya harus melanjutkan perjalanan menuju kantor. Sebelum ke kantor sejenak saya melihat-lihat kondisi motor bekas kecelakaan tadi, ternyata kondisinya sangat parah dan motor sudah tak terlihat bentuknya. Motor itu pun di simpan sementara di pom bensin yang dekat dengan kecelakaan. Setelah saya melihat tempat kejadian. Saya melanjutkan perjalanan ke kantor, untung saja saya punya baju cadangan untuk mengganti baju yang penuh darah.

Setelah jam pulang kantor kira-kira jam lima sore saya berniat ke pom bensin, selain untuk mengisi bensin, saya juga ingin melihat apakah motor bekas itu sudah diambil atau belum. Sampai di pom bensin saya melihat ada seorang bapak dan ibu yang ingin membawa motor bekas kecelakaan tersebut.

Saya dekati bapak dan ibu itu, dengan sedikit takut saya pun bertanya.
“Maaf pak, bu. Motor ini kenapa pak, kok ringsek begini?” tanya saya pura-pura tidak tahu.
“Ini motor anak saya yang tadi pagi kecelakaan,” jawab bapak agak memelas.
“Kalau boleh tahu anak bapak perempuan atau laki-laki? Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang pak?” tanya saya penasaran.
”Anak saya perempuan dik, dia sudah meninggal karena benturan keras dikepalanya,” jawab bapak dengan haru.

Mendengar jawaban dari bapak itu saya langsung terdiam, lemas, dan tidak berani bertanya. Saat saya terdiam tiba-tiba ibu itu berbicara dengan sedikit isak tangis.
“Padahal semalam ibu sudah melarangnya buat pergi, tapi anak ibu terus membantah untuk tetap pergi dengan teman laki-lakinya,” kata ibu itu sambil menangis.
“Berarti anak ibu itu semalaman bersama teman laki-lakinya itu tanpa izin orang tuanya,” gumam dalam hati saya, “Naudzubillah ampuni dia Yaa Allah.”

Terakhirnya ibu itu bicara sendiri, “Ya Allah ikhlaskan hamba, jangan sampai kekecewaan ini menyulitkan anakku di sana. Sayangi anakku ya Allah sesungguhnya hamba sangat menyanginya,” doa ibu itu sambil menangis.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting buat saya bahwa larangan ibu sangatlah keramat. Banyak akibat buruk yang akan kita alami jika kita tidak menuruti perintah ibu. Dan kejadian ini juga bisa menjadi pelajaran buat para orang tua, agar lebih bisa mengontrol pergaulan anak gadisnya. Sumber: Islampos.com



(xoxo)