Inilah Hukumnya Bila Wanita Tidak Mengganti Hutang Puasa Tahun Lalu

Posted on 2016-06-09 18:00



Bulan Ramadhan telah datang, bulan di mana kita harus menahan lapar, dahaga serta hawa nafsu selama satu bulan penuh. Tetapi untuk wanita pasti akan ada saat di mana puasa wanita dewasa tidak dapat dilakukan secara penuh.

Terdapat banyak faktor, satu diantara alasan dikarenakan fase datang bulan. Diluar itu, kebanyakan wanita juga membatalkan puasa karena tengah hamil, menyusui atau sedang dalam perjalanan.

Walau boleh membatalkan puasa, namun masih tetap ada kewajiban untuk mengganti pada hari diluar Ramadhan. Walau demikian dengan banyaknya aktivitas kadang-kadang wanita lupa mengganti puasasampai Ramadhan tahun yang baru telah didepan mata? Bagaimana pandangan Islam bila wanita tidak mengganti utang puasa tahun lalu? Berikut penjelasannya.

Tak dapat dipungkiri bila wanita masa kini dipenuhi dengan bermacam aktivitas yang sangat menyita waktu. Tanpa disadari ternyata bulan telah memasuki Sya’ban serta sebentar lagi masuk Ramadhan. Tetapi sayangnya kewajiban puasa yang batal di tahun lalu juga tak kunjung diganti.

Ternyata hal semacam ini menjadi perhatian serius yang semestinya di ketahui. Pasalnya utang puasa seperti utang duit atau barang yang perlu dilunasi. Bila kita tidak melunasi utang duit atau barang, yang kita hadapi adalah manusia, tetapi kasus apabila utang itu adalah puasa Ramadhan, maka yang bakal kita hadapi adalah Sang Maha Pencipta, Allah SWT di akhirt kelak.

Wanita bisa meninggalkan puasa wajib bila Ia mengalami keadaan yg tidak memungkinkan untuk meneruskan puasanya. Tetapi Ia masih harus mengganti atau mengqadha puasanya pada bebrapa bulan yang lain.
 
Ada dua keadaan di mana wanita belum membayar utang puasa tahun lalu.

Pertama dikarenakan alasan sakit, sakit permanen yg tidak dapat pulih, atau memang berniat mengulur-ulur waktu sehingga keharusan membayar utangnya terlewati.

Menurut pendapat Abu Hanifah serta Ibnu Hazm bila seseorang berniat mengakhiri utang puasa hingga datang Ramadhan setelah itu maka dia tetap harus mengqodho’ puasa itu diikuti dengan taubat.

Tetapi, Imam Malik serta Imam Asy Syafi’i menyampaikan bahwa jika dia meninggalkan qodho’ puasa dengan sengaja, maka di samping mengqodho’ puasa, dia juga mempunyai kewajiban memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang belum diqodho’. Pendapat inilah yang lebih kuat seperti difatwakan oleh beberapa teman dekat seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Hal sama juga diungkapkan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz, ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa Saudi Arabia). Menurutnya, orang yg tidak mengqadha puasa harus bertaubat pada Allah subhanahu wa ta’ala serta dia harus memberi makan pada orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan serta masih perlu menqodho’ puasanya. Ukuran makanan untuk orang miskin yaitu setengah sha’ Nabawi dari makanan pokok negeri itu (kurma, gandum, beras atau semacamnya) dan ukurannya yaitu sekitar 1, 5 kg sebagai ukuran pendekatan. Serta tak ada kafaroh (tebusan) selain itu. Hal inilah yang difatwakan oleh sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Kedua, Ia sangat terpaksa tidak membayar utang puasa lantaran ada udzur seperti sakit atau bersafar, atau pada wanita karena hamil atau menyusui serta sulit untuk berpuasa, maka tak ada kewajiban untuk mereka selain mengqodho’ puasanya saja.

Jadi dapat diambil kesimpulan bila wanita meninggalkan utang puasa sampai masuk ke Ramadhan berikutnya maka Ia harus bertaubat pada Allah dengan mengqodho’ puasa, serta harus memberi makan (fidyah) pada orang miskin, untuk setiap hari puasa yang belum ia qodho’. Tetapi bila mempunyai udzur (seperti dikarenakan sakit atau menyusui sehingga susah menunaikan qodho’), jadi dia menunda qodho’ Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, maka dia tak mempunyai kewajiban selain mengqodho’ puasanya saja.



(xoxo)