Kisah Inspiratif Seorang Bapak Yang Sudah Menikah 40 Tahun Tetapi Tiada Anak

Posted on 2016-04-19 20:20



Hari ini saya berkesempatan berkenalan dengan bapak Sayuti. Beliau seorang bapak yang sudah tua. Saat itu seorang diri sedang berjalan sambil mendorong motornya, saya sendiri sedang berjalan menuju ke sebuah toko.

Saya lalu bertanya pada Pak Sayuti ada masalah apa, oh katanya bensinnya habis. Lama kami menunggu pertolongan, untuk sekedar menyedot sedikit bensin dari tangki sepeda motor yang lewat untuk dipindahkan ke motor bapak ini. Tetapi sayang, tak ada satupun yang mau berhenti malam itu, tak apalah mereka mungkin ingin cepat pulang menyambut malam jumat agaknya.

Saya meminta Pak Sayuti menunggu di pinggir jalan dan berpikir untuk pergi ke kios bensin di depan. Saya menyampaikan maksud saya tersebut akan sedikit memakan waktu, beliaupun mengangguk faham. Saya lalu pergi meninggalkannya seorang diri untuk membeli bensin.

Usai mendapatkan bensin, saya kembali ke Pak Sayuti. Beliau girang bukan kepalang, menepuk-nepuk bahu saya berkali-kali sambil mengucap terima kasih.

“Nah ambil nih” Beliau menghulur uang.

“Eh tak apa, pak simpanlah, belikan cucu es krim.”

“Aku tak punya anak, nak” Beliau tersenyum sendiri dan menyimpan kembali duit tersebut. Saya terdiam dan merasa sangat bersalah, berkali-kali saya menyebut, maaf pak, maaf.

“Kau terburu-buru? Kalau tidak, tunggulah bapak berbuka sebentar, ini ada roti dan air,” beliau membuka bungkusan perlahan-lahan.

“Laaa! Bapak Puasa?! Ok ok saya temankan.”

Kami duduk sebentar di bahu jalan dan memakan roti saat sudah yakin waktu memasuki maghrib.

“Kau sudah menikah?” tanya Pak Sayuti sambil mengunyah rotinya.

“Sudah pak.”

“Anak berapa?”

“Alhamdulillah, baru seorang.” Saya jawab perlahan-lahan. Merasa kuatir hatinya terusik lagi.

“Berapa tahun sudah menikah?”

“Baru masuk 9 tahun, Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah, aku sudah 40 tahun lebih, belum ada anak, Alhamdulillah..”

“Bapak bersyukur?”

“Iya, saya bersyukur. Hal rezeki kan Allah punya kehendak. Harus selalu disyukuri. Kalau sekarang ini Allah memberi bapak anak, tak tahulah bagaimana aku akan menjaganya. Bapak sudah gak kuat. Jadi bapak sangat bersyukur,” kata Pak Sayuti. Saya kagum dengan pemikiran beliau dan tak tahu menjawab apa lagi untuk menyambung percakapan.

“Orang ada anak atau tak ada anak janganlah dipersoalkan. Itu semua rezeki Tuhan, tak ada beda orang punya anak dengan orang tak ada anak,” beliau terus menyambung percakapan. Saya hanya bisa diam sambil mengunyah roti seperti orang berbuka puasa juga.

“Jaga anak kau baik-baik, itu amanah. Bapak tidak akan pernah merasakan amanah itu, kau harus bersyukur karenanya. Tapi jangan pula kau pandang jelek orang tak ada anak, kami tak ada anak, tapi kami manusia juga. Ada hati juga, ada perasaan juga.”

“Betul pak.. saya minta maaf sekali lagi. Saya tak ada niat apapun,” saya benar-benar kesal dengan diri sendiri.

"Tak apalah. Kalau kau tak menolong bapak hari ini, entah siapa yang akan membantu. Bersyukur tidak jumpa bapak? Atau menyesal? Ha ha ha, " ia mulai tertawa, tetapi sudah nampak ada genang-genang air mata.

"Kita jumpa lagilah kapan-kapan, aku akan kembali ke Kampung Baru, tadi pergi ziarah anak saudara kecelakaan. Istri bapak paham benar, takut bapak balik terlambat, dia sudah siapkan roti dengan air, kalau tidak, bensin habis, lapar pula! Ha ha ha. Itulah, bapak bersyukur dapat istri yang baik. Tak tahulah siapa yang akan pergi dulu nanti, bapak doakan biarlah mati sama-sama, tak ada anak, nanti sunyi! Ha ha ha," Dia tertawa tetapi sambil menyeka mata.

Saya sudah tak tahan, saya mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi Pak Sayuti menyambut dengan memeluk erat. Dan seperti biasa saya menangis di bahu jalan yang mulai penuh dengan mobil berkumpul.

Dia memeluk saya dan menangis juga. Kami lalu saling menepuk bahu lalu beralaman. Kami berlalu dalam senja maghrib pulang ke rumah masing-masing.

Sungguh, tak pernah saya bertemu orang yang benar berterima kasih pada Tuhan karena diberi pencobaan. Empat puluh tahun hidup suami istri dengan penuh kasih sayang tanpa ada seorang anak yang dinanti-nanti oleh setiap pasangan yang sudah menikah. Allahu koran. Memang Pak Sayuti hebat.

Saya hanya merasa perasaan seperti ini enam tahun. Setelah itu muncul Nurul 'Ain dalam hidup kami. Alhamdulillah. Buat Pak Sayuti dan istri, semoga banyak anak-anak yang berlari menyambutmu di surga nanti. Amin.



(xoxo)