Kisah Nyata: Inilah Alasanku Berhenti Menjadi Wanita Karir

Posted on 2016-03-01 19:32



Sore itu sambil menanti kehadiran rekan yang bakal menjemputku di masjid ini selesai ashar. Kulihat seorang yang kenakan pakaian rapi, berjilbab serta tertutup tengah duduk disamping masjid. Nampaknya ia tengah menanti seorang juga. Saya coba memberinya teguran serta duduk disebelahnya, mengatakan salam, sambil berteman.

Serta pada akhirnya perbincangan hingga juga pada pertanyaan itu. “Anti telah menikah? ”.
“Belum ”, jawabku datar.

Lalu wanita berjubah panjang (Akhwat) itu ajukan pertanyaan lagi “kenapa? ”
Pertanyaan yang cuma dapat ku jawab dengan senyuman. Mau kujawab lantaran masih tetap akan meneruskan pendidikan, namun terasa itu bukanlah argumen.

“Mbak menanti siapa? ” saya coba ajukan pertanyaan.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Saya lihat kesamping kirinya, suatu tas laptop serta suatu tas besar lagi yang tidak dapat kutebak apa berisi. Dalam hati bertanya-tanya, dari tempat mana mbak ini? Kelihatannya wanita karier. Pada akhirnya kuberanikan juga untuk ajukan pertanyaan “Mbak kerja dimana? ”

Tak tahu kepercayaan apa yang membuatku sekian meyakini bila mbak ini memanglah seseorang wanita pekerja, walau sebenarnya setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini umumnya cuma mengabdi juga sebagai ibu rumah-tangga.

“Alhamdulillah 2 jam waktu lalu saya resmi tak bekerja lagi” jawabnya dengan muka yang aneh menurutku, muka yang bercahaya dengan ketulusan hati.

“Kenapa? ” tanyaku lagi.
Dia cuma tersenyum serta menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karier yang dapat bikin kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Saya berpikir sesaat, apa hubungan? Heran. Lagi-lagi dia cuma tersenyum.

Saudariku, bisa saya cerita sedikit? Serta saya mengharapkan ini dapat jadi pelajaran bernilai buat kita beberapa wanita yang Insya Allah cuma mau didatangi oleh laki-laki yang baik-baik serta sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, mungkin saja tidak butuh saya katakan nama kantornya. Upah saya 7 juta/bln.. Suami saya bekerja juga sebagai penjual roti bakar pada pagi hari serta es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bln., serta kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis lantaran terasa durhaka padanya. Kamu paham.kamu mengerti mengapa?

Saat itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, umumnya sore jam 3 telah pulang. Setibanya dirumah, mungkin saja cuma istirahat yang terlintas dipikiran kami wanita karier. Ya, Saya akui saya sungguh lelah sekali ukhty. Serta kebetulan waktu itu suami juga katakan bila dia masuk angin serta kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Tidak sama dengan saya, suami saya cuma minta diambilkan air putih untuk minum, namun saya jadi berkata, “abi, umi pusing nih, ambillah sendiri lah!! ”.

Pusing bikin saya tertidur sampai lupa sholat isya. Jam 23. 30 saya terbangun serta cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing juga sudah hilang. Beranjak dari sajadah, saya lihat suami saya tidur dengan pulasnya.

Menuju ke dapur, saya simak seluruhnya piring telah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukanlah mencucinya jika bukanlah suami saya (kami memanglah memiliki komitmen tidak untuk mempunyai khodimah)? Tampak lagi seluruhnya pakaian kotor sudah di bersihkan. Astagfirullah, mengapa abi kerjakan seluruhnya ini? Tidakkah abi juga pusing tadi malam? Saya selekasnya masuk lagi ke kamar, mengharapkan abi sadar serta ingin menuturkannya, namun terasa abi terlampau capek, sampai tidak sadar juga.

Rasa iba mulai penuhi jiwa saya, saya pegang muka suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat pengucapan paling akhir saya pada suami tadi. Cuma diminta mengambilkan air putih saja saya menyanggahnya. Air mata ini menetes, air mata lantaran sudah melupakan hak-hak suami saya. ”

Subhanallah, saya lihat mbak ini cerita dengan semangatnya, bikin hati ini merinding. Serta kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu tahu berapakah upah suami saya? Sangatlah tidak sama jauh dengan upah saya. Seputar 600-700 rb/bln.. Sepersepuluh dari upah saya satu bulan. Malam itu saya betul-betul terasa sangatlah durhaka pada suami saya.

Dengan upah yang saya punyai, saya terasa tidak butuh meminta nafkah pada suami, walau suami senantiasa memberi hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap saat memberi hasil jualannya, ia senantiasa berkata “Umi, ini ada titipan rejeki dari Allah. Diambil ya. Buat kepentingan kita. Serta sedikit jumlahnya, semoga Umi ridho”, begitulah tuturnya. Waktu itu saya baru rasakan dalamnya kalimat itu. Begitu harta ini bikin saya sombong serta durhaka pada nafkah yang didapatkan suami saya, serta saya meyakini nyaris tak ada wanita karier yang selamat dari fitnah ini”

“Alhamdulillah saya saat ini mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, semoga dengan jalan ini, saya semakin dapat menghormati nafkah yang didapatkan suami. Wanita itu kerap demikian sulit bila tanpa ada harta, serta lantaran harta juga wanita kerap lupa kodratnya” Lanjutnya lagi, tidak memberi peluang bagiku untuk bicara.

“Beberapa hari waktu lalu, saya bertandang ke rumah orangtua, serta menceritakan kemauan saya ini. Saya sedih, lantaran orangtua, serta saudara-saudara saya malah tak ada yang mensupport kemauan saya untuk berhenti berkerja. Sesuai sama sangkaan saya, mereka jadi membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain. ”

Saya masih tetap terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa saya dapat seperti dia? Terima sosok pangeran apa yang ada, bahkan juga ikhlas meninggalkan pekerjaan.

“Kak, tidakkah kita mesti pikirkan hari esok? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Cost hidup saat ini mahal. Demikian beberapa orang yang perlu pekerjaan. Nah kakak jadi ingin berhenti kerja. Suami kakak juga pendapatannya kurang. Mending jika suami kakak entrepreneur kaya, bolehlah kita santai-santai saja dirumah.

Salah kakak juga sih, jika ingin jadi ibu rumah-tangga, semestinya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang punya niat melamar kakak duluan saat sebelum sama yang ini. Namun kakak lebih milih nikah sama orang yang belum terang pekerjaannya. Dari 4 orang anak ayah, Hanya suami kakak yg tidak berpenghasilan terus serta yang paling untuk kami jengkel, kelihatannya suami kakak itu lebih sukai hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang mau membantupun tidak ingin, hingga heran saya, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan perkataan adik perempuannya waktu disuruhi pendapat.

“anti tau, saya cuma dapat menangis waktu itu. Saya menangis bukanlah lantaran apa yang disebutkan adik saya itu benar, Untuk Allah bukanlah karenanya. Namun saya menangis lantaran imam saya telah DIPANDANG RENDAH olehnya.

Bagaimanakah mungkin saja dia menyepelekan tiap-tiap tetes keringat suami saya, walau sebenarnya dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia?
Bagaimanakah mungkin saja dia mengejek orang yang selalu bangunkan saya untuk sujud pada malam hari?
Bagaimanakah mungkin saja dia mengejek orang yang dengan kalimat lembutnya senantiasa menentramkan hati saya?
Bagaimanakah mungkin saja dia mengejek orang yang berani datang pada orangtua saya untuk melamar saya, walau sebenarnya waktu itu orang itu belum memiliki pekerjaan?
Bagaimanakah mungkin saja seorang yang demikian saya muliakan, nyatanya demikian rendah dihadapannya cuma lantaran suatu pekerjaaan?

Saya mengambil keputusan berhenti bekerja, lantaran tidak mau lihat orang membanding-bandingkan upah saya dengan upah suami saya.
Saya mengambil keputusan berhenti bekerja juga untuk menghormati nafkah yang didapatkan suami saya.
Saya juga mengambil keputusan berhenti bekerja untuk penuhi hak-hak suami saya.

Saya mengharapkan dengan demikian saya tidak lagi menyanggah perintah suami saya. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangatlah bangga, bahkan juga demikian menghormati pekerjaannya, lantaran tidak kebanyakan orang mempunyai keberanian dengan pekerjaan seperti itu.

Sewaktu umumnya orang lebih pilih jadi pengangguran daripada lakukan pekerjaan yang seperti itu. Namun suami saya, tidak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Tersebut yang bikin saya demikian bangga pada suami saya.

Satu waktu bila anti memperoleh suami seperti suami saya, anti tidak butuh malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukanlah permasalahan pekerjaannya ukhty, namun permasalahan halalnya, barokahnya, serta kita memohon pada Allah, mudah-mudahan Allah menghindari suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya paling akhir, sembari tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas mau meninggalkanku.

Kulihat dari terlalu jauh seseorang laki-laki dengan memakai sepeda motor butut mendekat ke arah kami, berwajah ditutupi kaca helm, walau tidak ada niatku memandang mukanya. Sembari mengatakan salam, wanita itu meninggalkanku. Muka itu tenang sekali, muka seseorang istri yang demikian ridho.

Ya Allah….
Saat ini giliran saya yang menangis. Hari ini saya bisa pelajaran paling terkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku meniadakan sosok pangeran kaya yang ada pada benakku.. Subhanallah.. Walhamdulillah.. Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar

Mudah-mudahan pekerjaan, harta serta kekayaan tidak pernah menghalangimu tidak untuk terima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya. Silakan berbagi artikel ini pada seluruhnya rekanmu.



(xoxo)